Pages

Tuesday, August 25, 2015

BEHIND THE SCENE! YARN 14: BRINK OF SENSES


“Mengapa kau menari di sini?” tanya Kevin lantang. “Bukankah kau bisa menari di panggung dan dapat uang lebih banyak?”
“Aku tidak butuh uang. Aku hanya suka menari. Menari, menari, dan menunggu.”

Keputusan sang ayah untuk pindah ke New York membawa angin segar dalam kehidupan Kevin Huston. Di kota yang sibuk itu, dia bisa melupakan kenangan buruk akan ibunya dan bisa memulai hidup baru tanpa ada yang tahu riwayatnya sebagai mantan pasien di Pusat Rehabilitasi Mental Golden Sunshine (“Senyum, senyum, senyum karena kau ada di Golden Sunshine!”). Kevin berhasil menarik perhatian Carla Friday, gadis paling populer di sekolah dan dia bisa berteman dengan siapa pun yang dia mau. Siapa pun kecuali Scarlett Mendelsohn, gadis penari yang ia temui di Battery Park. Berulang kali Kevin mencoba mendekati Scarlett, tapi gadis itu tidak menggubrisnya, seolah pikirannya berada di tempat lain. Tapi Kevin tidak mau menyerah. Karena ada sesuatu dari gadis itu yang mengingatkannya pada kondisinya dahulu.




Author's Note:
As you already knew, tahun lalu Ice Cube Publisher mengadakan lomba bertajuk YARN yang mengangkat tema Realistic Ficton. 
Ketika saya sedang menjalankan tugas negara yang disebut KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Desa Bangbang, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, saya membuka-buka novel-novel yang pernah saya tulis di laptop saya. Saya temukan suatu naskah yang belum kelar di sana, yang teronggok sendirian, kesepian. Lalu saya baca lagi. Hmm… setelah dipikir-pikir, naskah itu ternyata memuat unsur yang cocok dengan  lomba YARN. AHA! Saya pun segera melanjutkan naskah tersebut, menambahkan ini-ina-inu, meski progress-nya selambat bekicot obesitas yang keberatan cangkang.
Beberapa tahun kemudian…
Ueedaaan! Gak kaleee!
September pun tiba… Saya tengok kalender, tanggal 3 (atau 5, saya lupa) September 2014. Batas pengiriman naskah YARN adalah 8 September 2014. Pergilah saya ke tempat ngeprint somewhere di dekat kampus saya untuk ngeprint naskah. Saya masukan naskah itu ke amplop cokelat besar yang kancingnya lepas, jadi talinya gak bisa dikaitkan (dan saya gak tau kenapa saya gak beli amplop baru aja—mungkin alasannya karena otak saya lagi eror 404), lalu saya staples berkali-kali di ujungnya supaya isinya gak berceceran saat dikirim nanti. Dan beberapa saat kemudian, naskah terkirim.

Pengumuman naskah pemenang dan naskah pilihan editor pun tiba pada Desember 2014. Berapa kali pun saya membaca dan memindai nama-nama di poster pengumuman pemenang itu, sebanyak itu pula saya gak bisa menemukan nama saya. Kemudian semua lagu galau yang saya punya di HP dan laptop mengalun.

Hiks hiks hiks huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!
Oke, itu tadi gak berlebihan, kok. Itu kenyataan.

Pada suatu hari di akhir bulan Maret 2015, saya sedang duduk merenung di meja belajar saya. Ketika saya hendak mengakses HP untuk main Candy Crush Soda (saya gak bisa berhenti main nih game padahal kalah mulu kerjaannya), HP saya berdering tanda ada e-mail masuk. Cek dan baca tiga kali berulang-ulang, saya kejang-kejang. Boong dink. Disebutkan dalam e-mail tersebut, saya diberikan kesempatan kedua untuk membenahi mental saya—eh, bukan! Maksudnya membenahi naskah YARN saya yang waktu itu gagal. Seperti baru saja menang lotre 49 juta rupiah yang biasanya dikirimkan ke saya dalam bentuk SMS penipuan (tapi saya gak pernah ketipu kok, santai aja), saya lompat-lompat kegirangan kayak wong edan.

Setelah berkutat dengan berbagai halangan dan rintangan, salah satunya yang paling mengerikan dan tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya—charger laptop saya meledup kesamber petir saat lagi self-editing naskah, akhirnya naskah kelar. Sebenernya deadline-nya masih lama, tapi karena saya ngebet, saya kirim langsung wes. Hehee…
Kemudian, pikiran saya beralih pada skripsi yang menggenaskan... Mei 2015, saya baru pulang dari diskusi umum bersama teman saya. Waktu itu diskusi dimulai dari jam 10 pagi WITA sampe jam 3 sore WITA. Pulangnya, saya dapet mention di Twitter. Cek HP, saya mendelik. 
Karena waktu itu sinyal jeleq banget sampe pengen ngamuk-ngamuk dan mencak-mencak, saya gak bisa liat poster pengumuman 2 naskah YARN pilihan editor yang di-extend. GGGRRRRRRR!! Saya kabur ke luar rumah, ceritane mau nyari sinyal. Setengah jam kemudian, posternya masih nggak keluar.
Kampred dah ini operator.
Beberapa saat setelah itu, barulah saya mampu melihat posternya. Betapa terkejutnya saya saat melihat nama pena saya yang ganteng itu bersandingan dengan judul naskah saya yang cantik  itu di poster naskah pilihan editor yang di-extend. Dan lagi setelah mendapat e-mail resmi pemberitahuan dari Ice Cube Publisher, seketika saya merasa dunia ini jauh lebih indah dari sebelumnya meski sinyal internet masih sejelek biasanya.


Jadi, secara kronologis, ini adalah perjuangan yang sangaaaaat panjang dan sangat... umm... penuh perjuangan (huh??)!
Novel ini bukan novel pertama yang saya tulis kok. Ini novel keempat atau kelima atau keenam yang saya tulis. Ada beberapa novel yang pernah saya ikutin lomba dan kirim ke penerbit. Kesemuanya lolos tahap pertama, tapi di tahap akhir, gagal total. Sakitnya tuh... di mana-mana!

Brink of Senses adalah novel pertama saya yang lolos hingga akhir! YAAAYY!


NAH, SEGITU SAJA DEH BEHIND THE SCENE-NYA. BIAR GAK SPOILER YAAAAA




Salam
Metha (a.k.a Mertha Sanjaya)

Wednesday, March 4, 2015

Skor TOEFL ITP saya....

Tanggal 13 Februari 2015 lalu, saya mengikuti tes TOEFL ITP di kampus. Kami, para mahasiswa, harus dapat skor 500+ sebagai persyaratan sidang skripsi.
Banyak temen yang bilang kalau tes ini butuh perjuangan yang soooo extreme. You have to get enough rest, study much, master many things, and blah blah blah....

I don't have time for that! I'm a very busy woman, y'know.

So, I only got to practice whatever it is in the handbook given by my university. There are some assignments, and I did them all. Whew....

The day finally comes....
Saya mengerjakan sebagaimana saya biasanya mengerjakan ujian. Yah, dibilang cepat sih cepat, dibilang lambat, yo nggak gitu lambat kok. Wkwkwk

Saya adalah peserta kedua yang selesai mengerjakan soal. Bisa jadi yang pertama sih andai saya nggak bengong menatap jam dinding. Wkwkwk


Dua minggu kemudian, saya dapat kabar kalau hasil TOEFL ITP sudah bisa diambil. Bersama seorang teman, saya mendatangi kampus dan menerima sertifikat putih berisi nama saya. Dan WOW! Skor saya 593!

Wah saya seneng setengah modar!
Ternyata jerih senang saya belajar bahasa Inggris dari masih anak bawang sampai tante-tante (kemaren saya dipanggil tante pas jalan-jalan di supermarket. edan lah) membuahkan hasil yang enak!

Gramedia Writing Project Batch 2

Nah, jadi, seperti yang kalian tahu, beberapa bulan lalu diadakan Gramedia Writing Project Batch 2.
Saya, dengan modal seadanya, ikutan lho!
Hore!
Dengan username Metha, foto profil seadanya, dan biodata kosong, saya mulai upload seluruh karya saya yang lagi nganggur di folder. Semua saya labeli GWP2, berharap bakal ada banyak orang yang baca, komentar, dan vote.
Bleeergghh....

I'LL JUST COPAS MY WRITING FROM MY DEVIANTART.
TOO LAZY TO WRITE A NEW ENTRY 'CAUSE MY FINGER HURTS LIKE HELL....

On January 20, there was an announcement on the 30 best writers on a very well known online writing community. The event is called Gramedia Writing Project Batch 2, starting from November 2014 to December 2014. There will be 10 writers picked from the best 30 writers to be invited to Jakarta and have their manuscripts published by the most famous Indonesian publishing house, Gramedia. I joined the event out of curiosity. Under the username Metha, I posted my works (short stories and novels) on the community by December 2014. There was only a few votes and comments on my works, and I thought my works must be thrash.... You can imagine how sad I was, right? :icononionwoeplz:

And then things happen in January 2015.... I didn't check anything until January 31. That was when I read the announcement. The judges were facing difficulties to pick the 10 best writers from the 30 best writers. It was easy to find my name in the announcement since it is the shortest name.
I couldn't believe it! I was one of the 30 best writers! :iconhappytearsplz:

Then I raid the whole internet to get more information about the event and how the judges picked the winners. They said, vote and comment don't effect the judgement. It is the writer's writing skill that matters.
Though I'm not picked as the best 10 writers, I'm still so happy! All the works I did for years finally paid off.
What makes me even happier is that the judges will keep an eye on the 30 writers (including me, yeah) to monitor their improvements. We will also have much bigger chance to publish our works under Gramedia.

Now, my friends, please pray for me so I can finish my novels and publish them in Gramedia and other publishers. This is what I have been dreaming for years besides making my family happy. Writing is my field, I decided. And I will make my family proud of me and my achievement. :iconhappyblueplz:

For those who are curious of my works (all are in Indonesian), go here gwp.co.id/author/metha/
For the announcement, go here gwp.co.id/pengumuman-seleksi-g…

Did you know? I have some anthologies, too! Three are horror anthologies (Lucy Lucifer, Ground Zero, and Cannaregio), and one is an anthology of true stories (Curhatku Untuk Semesta). All are published by a huge and very well known publishing company, de Teens. Please buy and read them! :iconlaplz:

Wednesday, December 24, 2014

A Year Ago

A/N: HAPPY CHRISTMAS, EVERYONE!
Ini fic onsehot yang kubuat untuk merayakan Natal! Well, semoga menghibur yaa :D
Enjoy!
Disclaimer: I own nothing….

A Year Ago

Ventus benci Natal.
Dia duduk di bangku bandara, memangku laptopnya yang menampilkan sederet presentasi dan artikel. Dia tidak pernah menyangka kuliah ternyata seberat ini. Setiap hari selalu berkutat dengan buku dan laptop, bersarang di perpustakaan kampus seperti laba-laba, dan berkeliaran ke sana-ke mari mengejar dosen-dosen untuk perbaikan nilai. Bahkan di hari Natal sekalipun, dia tidak bisa istirahat.
Ventus benci Natal.
Memangnya apa yang bisa dia dapatkan di hari Natal? Hadiah? Dari siapa?
Dia membuka kotak masuk e-mailnya. Ada beberapa e-mail baru dari teman-temannya.

Subjek: Apa kabar?
Hai, Ven! Sudah lama sekali kita tidak ketemu. Bagaimana kuliahmu? Apa masih sesibuk dulu? Well, setidaknya kau bisa liburan di Hari Natal. Polisi tidak libur di Hari Natal. Tapi aku akan pulang kampung setelah Tahun Baru. Kuharap kita bisa bertemu lagi, Ven.
Oh, ya, Selamat Natal! J

Subjek: DI MANA KAU?
DI MANA KAU? ISA JUGA HILANG! KENAPA AKU DITINGGAL SENDIRI DI ASRAMA???

Subjek: Selamat Natal.
Selamat Natal.
Dari Isa dan keluarga.
Sori, aku pulang duluan. Ada urusan mendadak. Trims, Ven.
P.S Kalau kau mau pulang kampung, pulang saja. Jangan pedulikan Lea.

Subjek: Ke mana kau?
Kau masih hidup?
Kusarankan kau pulang ke rumah tahun ini. Aku dengar dari sepupumu, adikmu yang paling kecil mencoba mengutil di supermarket. Untung saja dia yang memergokinya, kalau tidak, adikmu bakal dibawa ke kantor polisi! Kau harus pulang dan nasihati adik-adikmu! Orangtuamu juga mencemaskanmu.

Ventus menghela napas. Teman-temannya dan mulut besar mereka. Lea dan Isa adalah dua teman sekamarnya. Lea sangat ribut, sementara Isa sangat kalem. Dua pribadi yang bertubrukan itu selalu menyebabkan malapetaka di kamar asrama mereka. Kadang Ventus lebih suka mengabaikan mereka daripada terlibat malapetaka.
Aqua dan Terra dulu kakak kelasnya di SMA, tetangganya juga. Sifat mereka terlalu dewasa untuk usia mereka. Setelah lulus SMA, Aqua mendaftar ke akademi polisi, sedangkan Terra melanjutkan ke universitas di luar negeri.
Sempat Ventus berpikir, dia tidak mungkin bisa mengikuti jejak dua temannya. Dan tiba-tiba keajaiban terjadi. Dia cuma menendang bola sepak itu saja. Cuma sekali, dan bola itu menerobos pertahanan pemain tim musuh sampai ke gawang mereka tepat sebelum peluit tanda pertandingan usai ditiup. Gol ciptaan Ventus memperoleh sorak-sorai paling meriah sekota. Radiant High memenangkan pertandingan sepak bola antar kota dan menjadi idaman para pecinta olahraga. Semua berkat Ventus, si pendek dan kerempeng, pemain cadangan, kacung para pemain inti—dan dia turun ke lapangan karena salah satu pemain cedera—yang mencetak Gol Emas—begitu mereka menyebutnya. Hadiah yang mereka berikan membuat Ventus diterima di Universitas Twilight delapan ratus kilometer dari rumahnya.
“Seharusnya aku tidak pernah mencetak gol itu,” gumamnya, asap putih mengepul dari mulutnya. Perhatiannya teralih kembali pada layar laptop, pada e-mail paling atas.

Subjek: Bego
Oke, akhirnya aku tahu alamat e-mail-mu. Untung saja aku pintar.
Kau ini kenapa, Ven? Orangtuamu sudah mencoba menghubungimu sejak lama, tapi kau bahkan tidak pernah membalas pesan singkat mereka atau mengangkat telepon. Apakah otakmu ketinggalan di lapangan sepak bola itu?
Aku tahu aku kasar, tapi INILAH AKU! Aku cuma mau bilang, kau payah. Kau payah sekali sampai aku malu jadi sepupumu! Untung saja aku tidak punya hubungan darah secara langsung denganmu, tidak seperti adik-adikmu itu. Mereka jadi aneh. Kayak zombi yang tidak pernah makan otak manusia. Terutama Roxas. Aku kasihan pada Bibi Aeris. Paman Cloud tidak pernah mau berhenti menangis.
Sudahlah. Sampai jumpa…. Yah, semoga kita tidak ketemu lagi.

“Menangis?” Ventus mengernyitkan dahi. “Roxas jadi aneh?”
Dulu keluarga Ventus selalu merayakan Natal bersama—setidaknya sampai akhirnya Ventus kuliah. Tahun lalu dia tidak pulang ke rumah untuk merayakan Natal. Dia terlalu sibuk, lebih sibuk dari seekor lebah pekerja. Bahkan makan pun dia lupa, dan dia tidak pernah bisa tidur lebih dari tiga jam sehari. Ibunya menelepon saat Ventus sedang di puncak amarahnya setelah artikel yang sudah susah payah dia tulis terhapus dari memori laptopnya, menyuarakan betapa kecewanya dia pada putra sulungnya.
“Kalau Mammy lebih mementingkan jamuan makan malam murahan dan kotak hadiah yang dibungkus seadanya dengan isi seadanya daripada masa depanku, aku tidak akan pernah pulang ke rumah lagi!”
 “Ven, Sayang, Mammy dan Pappy merindukanmu. Adik-adikmu juga.” Itu ucapan ibunya yang terakhir sebelum Ventus menutup telepon dan membanting ponsel ke lantai asramanya.
Ventus ingat telepon berdering-dering tanpa henti sesaat setelah itu. Dia tidak mengangkatnya. Dia bahkan tidak sudi membaca nama yang ada di layar ponsel. Kemudian dia ingat membenamkan ponselnya ke dalam gelas susu Lea untuk membungkam bunyinya—dan Lea mengamuk hingga tengah malam.
Kini Ventus menyesal telah mengatakan semua itu pada ibunya. Selama setahun, dia merenung dan memaki dirinya sendiri. Bodoh sekali dia. Bodoh sekali!
Sudah setahun berlalu tanpa komunikasi antara dirinya dan keluarganya. Ventus memutuskan untuk pulang dan merayakan Natal bersama keluarganya, meski tumpukan asesmen masih mengintainya—apalagi setelah dia membaca e-mail dari sepupunya. Di dalam tas ranselnya yang besar, dia telah menyiapkan kado-kado untuk orangtuanya dan dua adik kecilnya. Mungkin sudah banyak hal berubah setahun belakangan ini. Mungkin, kepulangannya tahun ini akan menebus kesalahannya tahun lalu.
***
Salju berguguran menyelubungi rumah itu. Putih dan tebal. Asap meliuk-liuk keluar dari cerobong asap di sisi timur genting, lampu kelap-kelip bergelantungan di atas pintu depan. Cahaya lampu menerobos jendela rumah, memancarkan sinar keemasan ke tanah berselimut salju. Ventus bisa mendengar suara tawa dari dalam rumah itu, ditambah dengan aroma masakan. Dia membuka gerbang depan. Jerujinya dingin dan basah.
Melintasi jalan setapak yang tertutup salju, Ventus mengerling sekeliling. Semak-semak bunga kesayangan ibunya hanya tersisa ranting-rantingnya, pepohonan juga. Sepeda anak-anak ditinggalkan di bawah salah satu pohon kering, tertimbun salju. Tanpa sadar dia tersenyum saat ingatannya berlari ke masa lalu ketika dia mengajari adik-adiknya naik sepeda.
“Ventus?”
Ventus tersentak di tempat. Buru-buru dia berbalik. “Siapa?”
Seorang anak kecil berdiri di sana. Dia mengenakan jaket hitam, celana panjang sewarna, dan topi rajut dari wul. Tangannya terselubung sarung tangan wul juga. Dia tampak sangat kedinginan, menggigil dan meniup-niup tangannya.
“Roxas?” Ventus membungkuk menyamai tinggi adiknya. Dia tidak bisa menyembunyikan betapa bahagianya dia melihat adik kecilnya lagi.  Adiknya tampak sedikit lebih tinggi sejak terakhir kali mereka bersama. Dan Roxas tidak kelihatan aneh seperti apa yang Vanitas, sepupunya, tulis dalam e-mail-nya. Salju masih berjatuhan dari langit malam ini, tampak seperti ketombe raksasa di atas topi rajut Roxas. Ventus menyapu salju dari topi rajut dan rambut pirang adiknya. “Hei, kau sudah besar. Tetapi apa yang kaulakukan di luar? Seharusnya kau di dalam, bukan?”
“Kenapa kau di sini? Bukankah seharusnya kau masih kuliah?” anak itu balas bertanya. Matanya yang biru dan besar diarahkan pada mata biru Ventus.
“Aku pulang, Roxas. Untukmu, Sora, Pappy, dan Mammy.” Ventus tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya. “Ayo ke dalam.”
Roxas menggenggam tangan kakaknya. “Kita akan makan daging panggang spesial Natal.”
“Ya, daging panggang buatan Mammy.”
“Bukan. Buatan Pappy!”
Ventus meliriknya penuh tanda tanya. “Kenapa bukan Mammy yang memasak?”
Roxas melepas pegangannya dari tangan Ventus, dan melesat ke pintu depan. Tanpa mengetuk, dia mendorong pintu terbuka. Cahaya keemasan membanjiri jalanan bersalju. Anak itu masuk tergesa-gesa, seperti dikejar setan. Ventus mengernyit lagi. Inikah yang Vanitas maksud dengan… aneh?
Mengabaikannya, Ventus melesat ke dalam rumah.
Meletakkan koper di sisi pintu, dia merasakan kehangatan familier rumah itu. Lampu-lampu hias dinyalakan, hiasan-hiasan khas Natal digantung di dinding. Ada pigura-pigura disusun di atas meja kecil. Ventus mengerlingnya. Ada fotonya, adik-adiknya, dan orangtua mereka dalam pigura-pigura. Ventus tidak tahan untuk tidak tersenyum.
“Selamat Natal, Roxas! Dan kau kelihatan seperti tikus kecebur got.”
“Roxas, dari mana saja kau sampai selarut ini?! Bukankah sudah kubilang jangan keluar rumah saat turun salju dan jangan pulang di atas jam 5 sore? Aku hampir menelepon polisi!”
“Ventus di sini.”
Mendengar suara-suara itu, Ventus bergegas menghampirinya. Dia tidak memberitahu keluarganya bahwa dia akan pulang kampung. Ini kejutan. Dan dia sangat berharap kejutan ini akan memperbaiki hubungannya dan keluarganya.
“Oke, kau mulai bicara yang aneh-aneh lagi. Kau dihukum di kamarmu sampai pagi tiba.”
“Tapi dia tidak akan dapat hadiah dari Santa, Pappy! Kasihan Roxas!”
“Sora, apa kau mau dihukum juga?”
Ventus merapat ke dinding yang membatasi ruang keluarga dengan ruang tamu. Perlahan dan tanpa suara, dia melangkah masuk. Di ruang keluarga itu, ruangan kecil dengan perapian bata yang apinya berkobar-kobar, keluarga kecilnya sedang berkumpul. Ada pohon Natal besar di sudut ruangan, penuh lampu dan hiasan berkilau. Kado-kado berserakan di bawah pohon dengan taburan kertas kerlap-kerlip yang dipotong kecil-kecil. Suasananya hangat, lagu-lagu diputar di radio kecil di atas perapian.
“Kejutan! Selamat Natal, semuanya,” sapa Ventus dengan ceria. Namun mendadak dia merasa canggung pada keluarganya sendiri.
“Ventus!” Sora, adik lelakinya yang rambutnya cokelat liar seperti sarang gagak, menghambur ke arahnya. Anak itu memeluknya erat-erat, sesenggukan. “Akhirnya kau pulang juga!” Dia menoleh pada Pappy. “Pappy, Ventus sudah pulang!”
Pappy berdiri dari sofanya. Dia sangat kurus, sehingga sweternya menggelambir di badannya. Rambutnya gondrong, pirang seperti mentega. Raut wajah Pappy tidak sama seperti dulu. Dia terlihat lebih tua dari seharusnya saat menoleh Ventus.
“Sedang apa kau di sini?” tanyanya keras.
Ventus tersentak. “Pappy, aku pulang untuk merayakan Natal bersama-sama.”
Pappy mendecak, persis orang tua galak dalam film-film. “Bersama? Bagaimana bisa kita dinamakan ‘bersama-sama’ kalau ibumu tidak di sini?”
Kali ini Ventus merasakan jantungnya berdegup terlalu kencang. “Mammy kenapa? Di mana Mammy? Dia tidak ikut merayakan Natal di rumah?”
Sora melepas pelukannya. “Ventus, Mammy….”
Ventus menatapnya nanar. “Kenapa? Mammy mana?”
“Mammy kedinginan,” Roxas menyahut. Anak itu duduk memandang api dalam perapian. “Tadi aku bawakan mantel dan topi untuknya.”
“Ada apa dengannya?” Ventus berteriak. Amarah dan rasa ingin tahu meledak-ledak dalam dadanya. “Ada apa dengan Mammy? Seseorang, beritahu aku!”
“Ventus,” panggil Pappy, “duduklah.”
Meski sungkan, Ventus duduk di samping ayahnya. Dalam jarak sedekat ini, dia bisa mencium bau rokok dari tubuh ayahnya. Rokok dan… alkohol? Sejak kapan ayahnya jadi perokok dan peminum? Mungkin… setahun telah mengubah banyak hal.
“Sora, Roxas, pergilah ke kamar kalian. Kalian tidur duluan,” perintah Pappy.
“Lihat? Inilah alasan mengapa aku tidak suka jadi anak kecil,” Sora menggerutu sambil menghampiri si bontot di depan perapian. “Ayo, Roxas!”
Roxas berdiri dan mengikuti Sora keluar dari ruang keluarga.
Pappy ikut keluar setelah dua anak kecil itu pergi. Ventus menggigil tiba-tiba. Apa yang terjadi? Mengapa sesuatu terasa sedang menjepit jantungnya hingga perih? Apa setahun tanpa kabar bisa membuat segalanya berubah sedrastis ini?
Beberapa menit kemudian Pappy kembali lagi dengan sebotol bir dan dua gelas tinggi. Dia meletakkan gelas-gelas di meja kopi, lalu menuangkan bir.
“Minumlah. Jangan malu-malu,” katanya.
“Aku tidak minum, Pappy. Kau sendiri yang mengajariku agar tidak jadi pemabuk, bukan?”
“Kupikir kau sudah melupakanku.” Pappy meneguk minumannya sendiri. “Setahun tanpa kabar. Ngerti, kan?”
“Aku… minta maaf.”
“Aku sudah memaafkanmu sejak aku melihatmu di rumah ini lagi, Ventus,” kata Pappy datar. “Aku yakin ibumu juga.”
Ventus teringat pada ibunya lagi. “Di mana Mammy? Aku… aku ingin minta maaf padanya juga.”
Pappy menuang ke gelasnya. “Ibumu sudah tidak ada.”
Seperti baru disambar petir, Ventus terpaku di tempat. Seluruh suara lenyap, menyisakan gemuruh debaran jantungnya sendiri. Tubuhnya yang tadi dingin sekarang mendadak panas, kulitnya mengejang hingga rasanya akan segera robek. Ucapan ayahnya…. Itu tidak benar, bukan?
“Dia meninggal setahun lalu, Ventus,” Pappy melanjutkan sambil menyeruput isi gelasnya. “Sakit parah. Dokter menyerah. Dan dia menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit. Roxas ada di sana waktu itu. Aku sudah melarangnya, tapi anak itu nekat. Kematian Aeris di depan matanya membuatnya agak… aneh.”
Ventus tidak bisa berkata-kata.
“Ibumu mencintaimu. Dia selalu memanggil namamu dalam tidurnya, bahkan dalam napas terakhirnya.” Pappy menarik napas panjang. “Dia selalu mencintaimu, Nak. Selalu.”
Ventus menelan ludah, lalu, “Me-mengapa tidak ada yang mengabariku? Mengabariku bahwa Mammy sakit, bahwa Mammy membutuhkanku di sisinya saat Tuhan menjemputnya? Mengapa aku tidak tahu apa-apa? Aku belum mati! Demi Tuhan, aku belum mati seperti apa yang kalian pikirkan!”
Pappy hanya mengerjap-ngerjap mirip orang bodoh. “Aku depresi setelah Aeris pergi. Bos menendangku keluar dari kantor, dan aku harus memohon ke sana-sini agar dapat pekerjaan baru. Sora mencoba menjadi sosok seorang ibu, tapi gagal total. Roxas menderita kelainan mental—skizofrenia, kalau tidak salah. Tetangga mencemooh kami, lalu akhirnya aku jadi seperti yang kau lihat sekarang ini. Bapak tua pemabuk, perokok berat, galak, dan agak sinting. Aku hampir menyerahkan adik-adikmu ke pamanmu karena aku takut aku akan melukai mereka saat aku mabuk. Dan bagiku saat itu, kau sudah mati, Ventus…. Tidak ada gunanya mencoba menghubungi orang yang sudah mati….”
“Tidak…. Tidak!” Ventus berdiri dari sofa. “Ini bodoh! Ini… tidak masuk akal!”
Pappy minum lagi. “Aku tahu bagaimana perasaanmu, Ventus. Seperti itulah yang kurasakan setahun lalu.”
Ventus Strife teringat malam setahun lalu, saat ibunya memohon agar dia pulang ke rumah untuk menyingkirkan sejenak kesibukan kuliahnya agar dia dapat berkumpul bersama keluarganya. Ventus Strife teringat saat dia berteriak pada wanita itu, mengatainya tidak peduli pada masa depannya. Ventus Strife teringat betapa sialan dirinya, bagaimana dia telah berubah dari sosok anak lelaki naif menjadi sesosok bajingan. Bajingan yang telah menyakiti hati lembut ibunya, hati lembut yang dulu selalu menjadi tempatnya bersandar dan menangis.
Ventus Strife berlutut di lantai ruang keluarga itu.
“Maafkan aku…. Pappy, maafkan aku….” Air matanya meluap keluar dari kelopak mata, mengalir menuruni pipi dan menetes-netes. Tubuhnya berguncang, jantungnya nyeri. Meremas tinjunya sendiri, Ventus merasa jijik pada dirinya setahun lalu. “Aku… khilaf. Aku… seharusnya pulang waktu itu. Karena ini rumahku, tempatku pulang. Tempat di mana semuanya menantikanku, menyayangiku, dan mendukungku. Bagaimana bisa aku lebih mementingkan kuliahku daripada keluargaku?! Pappy, aku menyesal. Aku menyesali semua yang telah kukatakan pada Mammy setahun lalu.”
“Hal paling penting dalam hidup, Ventus,” kata ayahnya dengan tenang, “bukan dari mana kau berasal, tapi ke mana tujuanmu. Ikuti hatimu. Hatimu adalah pemandu terbaikmu. Dan dia akan memandumu ke tujuanmu, ‘rumah’.”
“Dan hatiku telah memanduku kembali ke sini, ke tujuanku, ke rumahku. Keluargaku.” Air matanya masih mengucur. Dia yakin dia terlihat sangat aneh dan menyeramkan sekarang.
“Ibumu selalu mengatakannya,” lanjut Pappy. “Dia wanita terbaik yang pernah kutemui.”
“Aku tidak pernah sempat memberitahunya bahwa aku mencintainya, bahwa aku sangat bahagia telah dilahirkan sebagai putranya.” Ventus mengusap air matanya. “Bahwa aku menyesal….”
“Dia telah memaafkanmu, Nak. Dia telah memaafkanmu.” Ayahnya ikut berlutut di sampingnya, lalu membungkus tubuh pemuda itu dengan kedua tangan kurusnya. “Aeris mencintaimu, sebagaimana aku mencintaimu. Ventus, anak kami, di mana pun kau berada, menjadi apa pun kau nantinya, kau tetap bayi kecil kami yang berharga.”
“Maafkan aku…. Maafkan aku….”
Salju berguguran makin cepat, makin deras. Suaranya menghantam kaca jendela bersahut-sahutan dengan lagu-lagu yang masih berputar. Kehangatan di rumah itu membuat Ventus Strife serasa melayang, melambung hingga menembus awan-awan. Jam dinding berdentang di angka dua belas, gemerincing lonceng dan petasan memenuhi malam Natal itu.
***
Roxas berlarian di jalanan pemakaman yang putih bersih. Sora di belakangnya, tersandung tumpukan salju dan terjerembab.
“Tunggu!” Dia bangkit lagi, dan mengejar adiknya lagi.
“Dasar curang!” Roxas berteriak saat Sora mendorongnya hingga terjatuh.
“Sora, jangan lakukan itu pada adikmu!” ayah mereka berteriak. Sora cuma cekakakan sambil berlari makin kencang.
Ventus mengikuti di belakang dua adiknya dan ayah mereka. Hari ini tidak sedingin kemarin, matahari bahkan bersinar terang. Dia menimang karangan bunga di tangannya, mengendusnya sesekali. Pappy bilang Mammy dimakamkan di pemakaman umum Radiant. Dia bahkan bilang bahwa dia telah memesan satu tempat di samping makam Mammy untuk dirinya kelak. Cinta sejati memang tidak pernah mati, bukan?
Mereka berhenti di depan nisan besar berukir gambar bunga. Ada mantel merah jambu dan topi rajut merah di depan nisan itu. Sepertinya itu benda-benda yang Roxas letakan kemarin malam.
Ventus berlutut di depan nisan. “Hai, Mammy. Ini aku Ventus.” Dia meletakkan karangan bunga. “Aku beli ini untukmu. Mungkin kurang bagus, karena harganya murah. Tapi aku menggunakan uang tabunganku sendiri untuk bunga ini.”
“Katakanlah,” sahut ayahnya.
Ventus mengangguk. “Setahun lalu aku tidak pernah sempat mengatakan ini padamu.” Dia tersenyum. “Selamat Natal, Mammy.”
Suara gelak tawa dan teriakan adik-adiknya terdengar di belakang disertai gerasak-gerusuk salju yang terinjak. Angin berembus pelan, menciptakan siul saat melintasi ranting-ranting dan batu-batu nisan lainnya. Sayup-sayup Ventus mendengar,
“Selamat Natal juga, Ventus Sayang. Aku mencintaimu.”
“Aku juga.”

FIN

TRIVIA
Usia Ventus di cerita ini 20 tahun. Sora 10 tahun, dan Roxas 9 tahun.
Inspirasi berdasarkan dari listening take home assignment yang saya dapat pas semester 2. Judulnya Christmas Lights. Inspirasi lainnya berasal dari temen saya. Hehee :D

Happy Christmas!

Tuesday, July 15, 2014

CANNAREGIO: Valentine Berdarah Mercurio


JUDUL: Cannaregio: Valentine Berdarah Mercurio
PENULIS: Giovani Rahmatullah Rizal, dkk
PENERBIT: de Teens
Tahun: 2014















Halo!
Inilah postingan pertama saya di bulan Juli. Juli ini saya ragu bisa post cerpen. Saya sedang KKN (Kuliah Kerja Nyata) di luar kota, dan nggak boleh pulang. Di tempat KKN saya nggak ada sinyal dan saya nggak punya modem (selama ini modem pakainya gantian sama adek. Adek KKN di tempat lain :') ). Sekarang ini, saat saya nulis postingan, saya sedang ambil ijin untuk ngurus tetek bengek di kampus, jadi saya pulang ke Singaraja sama adek saya. Jujur, saya sungkan balik lagi ke tempat KKN.

I used to hate Singaraja's hot weather, but now I damn love it!


JRENG JRENG JRENGGGGGG KEGALAUAN MAHASISWA TINGKAT LANGIT LAPISAN KETUJUH BELAS DIMULAI!


#lupakan yang di atas tadi




CANNAREGIO berisi 20 cerpen horor bersetting luar negeri. Cerpen-cerpen ini didapatkan dari event #Hororkotadunia yang diselenggarakan oleh DIVA Press dan Kampus Fiksi pada Februari 2014 lalu. Tanggal 16 Maret 2014, pengumuman 20 nominator pun dikumandangkan. Saya nyengir dan mewek bombai saat melihat nama saya ada dalam daftar 20 nominator itu :')


Ok, saya ingin curcol dikit soal perjuangan (OMG HELLO PERJUANGAN BEROO) saya dalam event #Hororkotadunia ini.

Awalnya, saya membuat cerpen dengan latar kota di Jerman, di mana semua penduduknya dibantai. Saya lupa nama kotanya. Cerpen itu tidak selesai saya tulis, karena tidak cocok dengan tema :')
Begini cuplikannya:
Semuanya semakin kacau. Rasa panas dan sakit semakin menjadi-jadi. Dia sadar, pakaiannya terbakar. Api merambat masuk ke celah lengan pakaiannya, dan memanggang kulitnya. Dia tamat.


Lalu saya kesemsem sama legenda The Green Lady dari Prancis. Semua berkat cerita flash yang tidak sengaja saya baca. Saya seketika membuat cerpen berdasar legenda The Green Lady dari Prancis. Karakter utama dalam cerpen saya bernama Clair Marmalade (karena waktu itu saya juga lagi kecanduan Candy Crush. Note: Marmalade itu sirup buah. Di Candy Crush, marmalade ngebungkus permen, jadi permen nggak bakal pindah tempat. Harus di-match supaya bisa pindah dan ngasih tempat buat permen lain :P ). Clair adalah seorang pembantu rumah tangga di Chateau de Brissac. Bosnya adalah Madame Charlotte dan Monsieur Jacquese de Breze. Dia punya pacar namanya Raymond le Courier. Cerpen ini selesai saya buat, tapi karena setting waktunya yang di pertengahan abad 15, saya pun scrap cerpen ini :')
Begini cuplikannya:
Kelakuan Madame Charlotte waktu itu terus berulang hingga hari ini. Dihitung-hitung, sudah seminggu dia mengetuk pintu, melongok ke dalam, dan berkata dia mencari Raymond.


Cerpen ketiga saya mengambil setting di Irlandia, tepatnya di Carlow Shopping Center. Berkisah tentang Liam, pengunjung pusat perbelanjaan, yang bertemu dengan anak kecil misterius dan kakak perempuannya yang cantik. Namun ternyata anak itu dan kakak perempuannya menyimpan rahasia kelam…. JDER! Cerpen ini di-scrap karena tidak adanya chemistry antara tokoh (halaah x_x)
Begini cuplikannya:
Gadis bergaun putih itu tersenyum. “Fiona.”
“Oke, Fiona, aku harap kau bisa menjaga adikmu lebih baik lagi. Tidak baik anak kecil berlarian di pusat perbelanjaan luas ini sendirian,” Liam menasehati. Kepalanya serasa menggembung karena kesombongan. “Kudengar Carlow Shopping Center ini berhantu, lho.”


Cerpen keempat lagi-lagi di tempat yang sama dengan cerpen ketiga. Tokoh utamanya masih tetap Liam dan si anak kecil misterius. Karakter Fiona di-scarp dan digantikan dengan Lucy. Dalam cerpen ini, Liam adalah pelayan restoran yang akrab dengan pelanggan setia restoran bernama Lucy. Pada suatu sore, Lucy mengajak seorang anak kecil bersamanya. Kehadiran anak kecil itu membawa bencana bagi hidup Liam dan Carlow Shopping Center. Namun cerpen ini memiliki alur rumit, maka saya scrap.
Begini cuplikannya:
Lucy datang lagi ke kafe. Dia seorang wanita pelanggan setia kafe, lumayan ramah, tapi agak sinting. Liam menganggapnya demikian karena wanita itu selalu datang setiap matahari menjelang tenggelam, dan mengenakan gaun hitam penuh noda berlengan gembung.


Cerpen kelima bersetting di Amerika Serikat. Opsir William ‘Liam’ Hamilton (oke, oke, saya memang agak stress kalau mikir nama, jadi nama Liam pun saya pakai berkali-kali :P ) mengunjungi adik lelakinya, Abel, yang menderita gangguan kejiwaan di Denver Mental Hospital. Pembunuhan sadis dan berantai terjadi di rumah sakit tersebut, sehingga William memutuskan bermalam di sana untuk menunggui adiknya. Cerpen ini pun selesai saya buat. Namun saya scrap lagi karena alurnya yang rumit. :')
Begini cuplikannya:
Sia-sia. Pria botak itu malah menerjang Abel dengan belati terarah pada wajah pemuda tersebut. Liam kalut. Dia menekan pelatuk pistolnya, dan peluru mendesing menembus pelipis kanan pria botak itu.


Mari kita beranjak ke cerpen keenam. Di gedung kantor polisi Richmond, Samuel, polisi kroco, dihantui oleh sesosok makhluk. Mr. Conte, pemilik kedai kopi di seberang gedung kantor polisi, menjadi satu-satunya tempat baginya untuk bercurah. Namun Mr. Conte ternyata menyimpan rahasia kelam yang berhubungan dengan Samuel dan temannya, Julian Roth. Cerpen ini juga selesai saya buat, bahkan saya sampai memutuskan akan mengirim cerpen yang ini. Namun saya urung karena kesan seram dalam cerpen ini tidak tersampaikan kepada beta-reader..... :')
Begini cuplikannya:
Keletak-keletik mesin tik terdengar. Tombol-tombolnya tertekan oleh angin, dan mencetak tulisan pada kertas yang terjepit. Sam bergidik, dan mundur sejurus. Tulisan pada kertas itu terbaca:
‘NAMAKU SAMUEL’


Berikutnya cerpen ketujuh. Inilah cerpen yang akhirnya saya kirim dan dimuat dalam antologi CANNAREGIO. Idenya berasal dari game S.T.A.L.K.E.R. Call of Pripyat. Tentang mutan, tapi di cerpen saya ganti menjadi manusia yang terkontaminasi sisa radiasi nuklir dari kebocoran Pabrik Chernobyl. Nikolai, alias Niko (OK, saya suka GTA IV, dan saya suka dengan cara Roman memanggil sepupunya dengan "Hey, Niko!") , seorang saintis yang melihat sekelompok orang tanpa baju anti radiasi berkeliaran di Zona Alienation Pripyat. Dia ingin menolong mereka dari radiasi, meski temannya, Viktor, tidak percaya Nikolai melihat orang.
Cerpen ini saya buat dalam sekitar dua atau tiga hari. Namun sebelum saya mengirimnya, saya sempatkan diri untuk menulis cerpen ketujuh.
Begini cuplikannya:
“Siapa?” Nikolai berbisik, heran. Bayangan si pemuda beringsut lolos dari bulatan sinar senter. Nikolai keluar dari kantong tidurnya, mengenakan baju anti radiasi, dan mengendap keluar dari kamp bersama senternya.


Cerpen kedelapan berlatar London, di Madame Tussaud Museum yang menjadi tempat penyimpanan patung lilin para korban Revolusi Prancis termasuk patung lilin kepala Raja Louis dan Marie Antoinette yang dihukum penggal dalam Revolusi Prancis. Bercerita tentang Oliver Kaufmann sang pemahat patung lilin, tapi cerpen ini tidak selesai saya tulis.
Tapi beginilah cuplikannya:
Suara orang berbincang-bincang terdengar memenuhi lorong-lorong museum yang temaram. Oliver berhenti sejenak, mendengarkan. Ada orang lain selain dirinya dan para satpam di museum ini. Bukankah sekarang sudah jam tutup museum?

Entah kenapa, saya merasa sangat lelah saat menulis crpen kedelapan. Maka saya kirimkanlah cerpen ketujuh berlatar Pripyat.
Dan cerpen ketujuh saya LOLOS!!

HURRAAY!!




Demikian isi curcolan saya. Semoga tidak merobek mata, ya. Heheee.
Terima kasih sudah baca curcolan saya.
Jangan lupa beli CANNAREGIO di toko buku terdekat!
:D